RSS

UPAYA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BUDAYA DAERAH BIMA DAN PERMASALAHANNYA

01 Jul

lenggeA.     LATAR BELAKANG

Keadaan alam, flora, fauna, peninggalan purbakala, sejarah, seni dan budaya yang kita bangsa Indonesia miliki adalah limpahan rahmat dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan modal dasar pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Kabupaten Bima yang terbentang dibagian barat terdapat gunung Tambora dan pulau Satonda dibagian timur pulau Kelapa (Kecamatan Lambu), dibagian utara terdapat pulau Gili Banta dan pulau Sangiang (Kecamatan Sape dan Kecamatan Wera), serta di bagian selatan dengan teluk Waworada, memiliki sejarah yang panjang dan di huni etnis Mbojo/Suku Mbojo termasuk di Kabupaten Dompu adalah mayoritas beragama Islam, yang sebelumnya sekitar abad ke 15 dan ke 16 memeluk agama Hindu, Budha Animisme dan dinamisme. Menyimpan aneka ragam produk budaya, sejarah dan istiadat, upacara adat, karya seni, karya arsitektur, permainan rakyat bahkan budaya intelektual.

Setelah memeluk agama Islam yang diterima oleh Sultan Abdul Kahir sekitar tahun 1620 (1640) abad ke 17 Masehi, banyak karya-karya budaya lama tersebut tetap terbawa seperti upacara adat, karya seni, arsitektur dan sebagainya, yang diselaraskan dan disesuaikan dengan roh keislamian, sementara yang merusak kehidupan seperti upaya pemujaan roh leluhur yang tinggalkan walaupun melalui perjuangan yang berat dan berliku-liku. Bukankah kita memiliki lebih dari 300 suku dengan adat dan istiadat yang berbeda tetapi tetap dalam satu “Bhineka Tunggal Ika”.

Kebudayaan yang hidup tersebut merupakan ciri khas, akar kebudayaan Dana Mbojo dan menjadi identitas Dou Mbojo yang harus kita banggakan, perlu dipelihara, dilestarikan sebagai jati diri Dou Labo Dana Mbojo.

B.      MENATA WAJAH KEBUDAYAAN dan KEHIDUPAN DANA MBOJO SAAT INI

Hasil karya cipta leluhur sebagaimana tersebut di atas baik berupa benda-benda, norma-norma budaya, adat dan istiadat, ide-ide dan sebagainya akan dapat bertahan dan berkembang atau hilang sama sekali tergantung kepada kita sebagai masyarakat yang mendukungnya.

Adapun kondisi kebudayaan masyarakat Mbojo saat ini :

a.      Upacara Keagamaan Islam

Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, Aru Raja To’i, Aru Raja Na’e, Khataman Al-Qur’an, Ampa Fare dan sebagainya.

Hampir punah : Ngaha Karedo

b.      Upacara Unisiasi (Pendewasaan)

Salama Loko, Cukur Rambut, Khitanan.

Hampir punah : Nggoso Woi (meratakan gigi)

c.       Upacara Perkawinan

Wi’i Nggahi, Mbolo Weki, Wa’a Co’i, Akad Nikah, Boho Oi Mbaru.

Hampir punah : Weha Nggahi

d.      Upacara Kematian

Do’a hari pertama, hari ketiga, hari ketujuh dan keempat puluh.

Hampir punah : Karaso kubur

e.      Seni

Kelasik dan tradisional yang tersebar diberbagai Desa/Kecamatan.

f.        Bahasa

Nggahi Mbojo

g.      Peninggalan Sejarah dan Purbakala

Naskah Kuno, situs Wadu Pa’a

h.      Karakter/Moral/Jati Diri

Kepatuhan terhadap nilai adat, agama yang merupakan jati diri masyarakat etnik Mbojo makin menurun dan makin bertambah parah oleh suasana kehidupan global yang menimpa kehidupan masyarakat.

Bagi dou Mbojo yang memiliki filsafat hidup (fu’u mori) “Maja Labo Dahu” yang berarti :

Maja (Malu)    :    sebagai orang yang beriman harus merasa malu kepada Allah, manusia dan diri sendiri apabila melalaikan perintah adat dan agama.

Dahu (Takut)    :    sebagai orang yang bertakwa merasa takut (dahu) jika melakukan perbuatan yang dilarang agama dan adat.

Bagi pemimpin dan masyarakat Dana Mbojo menjunjung tinggi asas demokrasi/ asas musyawarah sebagaimana yang tertuang dalam ungkapan “Mbolo Ro Dampa” yang berarti :

Hasil musyawarah yang keluar dari hati nurani dan diyakini kebenarannya (ndonta ba rera kapoda ba ade) dilaksanakan dengan penuh hati dan sungguh-sungguh (Su’u Sawa’u Sia Sawale).

i.        Komersialisasi Seni Budaya

Perkembangan industri pariwisata sudah menyentuh dan merapkan hampir seluruh nilai dan aspek kehidupan masyarakat, baik bersifat nilai religius, nilai historis maupun adat serta budaya. Kita jangan sampai larut memenuhi kehendak wisatawan yang melanggar keaslian dan jati diri Dou Labo Dana Mbojo. Kita harus mampu menggali, mempertahankan kebudayaan “Back To Nature”.

C.      UPAYA PELESTARIAN dan PENGEMBANGAN BUDAYA LOKAL

1.      Upaya Pelestarian

Ditengah-tengah adanya kekhawatiran dan memudarnya nilai tradisi, seni dan budaya, yang merupakan kekayaan budaya, jati diri dan nilai-nilai luhur yang dimiliki sebagai warisan nenek moyang, karena arus globalisasi dan arus kedatangan wisatawan mancanegara asing, upaya pelestarian (peerlindungan, penyelamatan, pengawasan dan pemeliharaan) patut mendapat perhatian agar bermanfaat bagi generasi ke generasi, sebaliknya kerusakan, kehilangan akan nilai budaya tersebut maka berakibat hilangnya jati diri daerah.

Adapun upaya pelestarian yang dilakukan adalah :

  • Pemeliharaan warisan budaya
    • Pemeliharaan Museum dan barang-barang koleksinya, pemilikan Benda Cagar Budaya (BCB) dan Juru pelihara Situs (Jupel).
    • Pendokumentasian dan perekaman kesenian daerah, upacara adat, naskah-naskah kuno, adat istiadat, sejarah dan bahasa daerah, arsitektur, dll.
    • Upaya penggalian, pemeliharaan warisan budaya (situs Tambora), aksara dan bahsa Mbojo
  1. 2.      Upaya Pengembangan

Dalam keutamaannya dengan kepariwisataan yang di dukung oleh potensi/asst kebudayaan yang ada yang merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan (wisman, wisnu), upaya pengembangan yang dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Menginventalisir semua jenis potensi dan produk budaya daerah.
  • Mengadakan pembinaan tekhnis dan mutu produk budaya terutama kesenian
  • Memperkenalkan, mempromosikan nilai-nilai budaya yang utuh dan alami.
  • Mengadakan dialog, seminar, symposium budaya.
  • Menggelar event-event dan festival budaya.
  • Promosi budaya, nisi budaya dan lain-lain.
  1. D.     PENUTUP

Guna menangkal dampak dari budaya global yang sedang berkembang sekarang, upaya pelestarian dan pengembangan nilai sejarah, norma adat, seni dan budaya yang merupakan jati diri masyarakat bakal sangat diharapkan.

Pengembangan pariwisata sebagai suatu industri, peningkatan pendapatan Negara dan masyarakat, penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha memperkenalkan kebudayaan di alam Indonesia serta meningkatkan persaudaraan dan persahabatan nasional dan internasional.

Ketahanan budaya lokal agar lebih terpengaruh oleh arus wisatawan yang membawa budayanya masing-masing adalah merupakan tanggung jawab bersama sebagai masyarakat, pelaku wisata dan pengusaha industri pariwisata.

sumber : DISBUDPAR KABUPATEN BIMA

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on 01/07/2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: